Kumpulan Cerpen Terbaik Karya Penulis Muda Indonesia.

Cerpen Cinta: THERE’S SOMETHING IN YOUR EYES

THERE’S SOMETHING IN YOUR EYES
Oleh: Bella Danny Justice

Yang benar saja? Aku tidak mungkin jatuh cinta pada orang seperti dia! Kalau saja aku dapat menentukan jalan hidupku, aku lebih baik bersama dengannya. Walau harapanku ini mustahil, tapi aku ingin untuk tidak mencintai orang itu. Dia bukanlah pria yang baik. Aku menyesal karena aku terlalu bodoh dan terbuai sikap lembutnya.
            Pada awalnya aku kira dia hanya bersikap seperti itu kepada diriku, tetapi aku salah. Dia memperlakukan semua perempuan sama seperti aku. Aku sungguh tidak terima. Aku ingin pergi sejauh mungkin supaya aku tidak dapat melihat wajahnya yang memuakkan itu. Tetapi kenyataan berkehendak lain, kini aku justru satu kelas dengan pria itu.
            “Keiko, ayo aku antar kan kau pulang.” Ucapnya yang berdiri dihadapanku.
            Segera ku masukan semua buku yang ada diatas meja dan bergegas untuk pulang. “maaf, aku ada urusan. Kau pulang sendiri saja.” Kataku ketus. Lalu aku meninggalkan Souta dikelas sendiri. Namun ia mengejarku dan menarik pergelangan tanganku.
            “Keiko, ada apa denganmu?! Kenapa kau begitu berubah terhadapku?! Katakan padaku apa yang mengganjal dihatimu!” perkataan Souta benar-benar membuatku ingin meledak. Berani sekali dia bertanya seperti itu padaku setelah ia berpacaran dengan sahabatku lalu ia meninggalkannya hanya dalam waktu 1 bulan. Karena dia, sahabatku Miruka sampai pindah sekolah dan sekarang aku tidak punya siapa-siapa.
            Aku menatap lurus matanya penuh dengan kekesalan. “jangan pernah kau tunjukan wajahmu dihadapanku Sou.”
***
            Aku tau aku telah bersikap keterlaluan kepadanya. Tapi inilah yang bisa kulakuan untuk mengubur perasaanku terhadapnya. Aku tidak ingin berakhir seperti Miruka. Aku masih ingat betul saat itu. Malam hari saat aku sedang belajar untuk ulangan Fisika tiba-tiba bel rumahku berbunyi. Ternyata Miruka yang datang kerumahku. Aku mengajaknya masuk tetapi ia tidak mau. Ia tidak mendengarkan ucapanku. Badannya basah kuyup dan wajahnya pucat, bibirnya pun membiru karna kedinginan. Ia menerjang hujan lebat sampai seperti ini. Sekali lagi aku mengajaknya untuk masuk kedalam, tetapi ia menolaknya mentah-mentah. Miruka justru menepis tanganku yang berusaha membantunya untuk berdiri.
            “kenapa...kenapa Keiko, kenapa ini terjadi kepadaku??!!!” serunya penuh dengan tatapan yang berlinang air mata. Aku tidak mengerti maksud sahabatku itu. Tiba-tiba ia datang dan menyalahkanku, seolah aku telah melukai perasaannya.
            “apa maksudmu Miruka? Aku tidak mengerti. Masuklah dulu, biar kau jelaskan semuanya. Kalau tidak, kau akan jatuh sakit.” Aku mengajaknya untuk masuk tapi ia tetap tidak mau. Ia sungguh membuatku penasaran akan apa yang terjadi.
            “maaf Keiko, aku rasa...aku tidak bisa lagi menjadi sahabatmu.” Setelah mengucapkan itu lalu ia pergi. Ia berlari menjauh. Sampai aku tak dapat lagi melihatnya.
            Sampai detik ini aku belum mengetahui maksud perkataan Miruka. Keesokan harinya ia sudah pindah sekolah dan aku melihat Souta bersama dengan perempuan lain. Walaupun aku menyukainya, tapi aku tidak terima kalau ia menyakiti hati Miruka. Aku yang tadinya berteman akrab dengan Souta perlahan mulai menjauhinya dan beruntunglah karena kami tidak sekelas.
            Akan tetapi keberuntunganku tidak bertahan lama. Ketika kenaikan kelas diumumkan, aku terkejut karena kami berada dikelas yang sama. Kelas 3-1. Aku memilih tempat duduk sejauh mungkin darinya untuk menghindari kontak dengannya. 2 bulan berlalu sudah semenjak aku menempati bangku di kelas 3 ini. Aku bisa merasakan Souta yang dulu telah berubah. Ia tidak lagi suka bermain-main dengan perempuan. Ia terlihat lebih rajin. Tapi aku tetap belum bisa melupakan kejadian Miruka dan hatiku pun belum berubah, aku masih menyukainya.
***
            Malam ini hujan turun dengan lebat dan disertai angin kencang. Aku memandang keluar jendela kamarku dan mengikuti arah titik-titik air yang berjatuhan ke bumi. Malam ini seperti waktu Miruka datang kerumahku, aku merasa hampa. Entah sampai kapan aku menjadi pecundang hanya karena sahabatku. Aku tidak bisa mengakui perasaanku sendiri kepada orang yang aku sukai karena sahabatku adalah mantan pacarnya.
            Bel rumahku berbunyi terus menerus tak henti-hentinya. Aku menghampiri dan membuka pintu rumahku dan berharap itu bukan Miruka.
            “Ka, Kazuo? Apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini?” ternyata yang bertamu adalah tetanggaku Kazuo. Ia seorang mahasiswa perguruan tinggi negri. Ia berbeda hanya 1 tahun denganku. Konyol sekali aku sempat berfikir semoga yang datang bukanlah Miruka. Rasanya ingin aku menertawakan diriku.
            “mm..Ke-ke..keiko...” ucapnya terbata-bata.
            “ada apa Kazuo? Katakan saja. Aku kan temanmu.” Kataku sambil menyunggingkan senyum dengan mataku yang disipitkan.


“a-aku...aku hanya ingin minta gula. Aku ingin membuat teh tapi ibuku sepertinya kehabisan gula. Hehe.” Gaya Kazuo kaku sekali. Tapi aku tidak menghiraukannya. Aku langsung mengajaknya masuk dan mengambilkan toples kaca berisi gula seperti yang ia pinta.
            “t-terimakasih Keiko, nanti aku segera kembalikan.”
            “ya, tidak apa-apa” ujarku terkekeh.
            Kazuo memang orang yang unik. Bahasa tubuhnya membuatku tertawa. Ia bukan tipe yang suka melucu, tetapi perilakunya sungguh membuatku terhibur. Aku selalu tertawa geli jika melihatnya. Ia pria yang sangat baik dan berhati mulia. Aku mengenalnya sejak pindah kerumah ini 5 tahun lalu. Sebagai tetangga yang kedatangan penghuni rumah baru, ia membantuku mengangkat barang-barang.
            Sejak saat itu kami mulai akrab dan berteman. Aku sering sekali berkunjung kerumahnya untuk bermain bersama. Orangtua kami bahkan sempat berfikir untuk menjodohkan kami, tetapi aku dan Kazuo menolaknya sehingga batal lah rencana perjodohan tersebut dan aku sangat lega.
            Keesokan harinya aku melangkahkan kakiku dengan semangat untuk pergi ke sekolah. Tanpa sengaja aku bertemu Kazuo di tengah jalan. Aku mendekatinya dan mengagetkannya.  Aku menepuk bahunya agak kencang dan berkata nyaring. “HAAAIIII Kazuoooo! Selamat pagi! Hehe.”
            Ekspresinya lucu sekali. Aku hampir mati tertawa saat melihat wajahnya yang terkejut bukan main. Kazuo mengelus-elus dadanya lalu menarik nafas untuk berbicara. “Keiko, aku benar-benar kaget. Kau itu keterlaluan! Jantungku rasanya mau copot, kau tau?”
            Aku masih tertawa geli sambil berusaha menahan tawaku untuk berhenti. “maaf maaf hehe habisnya kau lucu sih, aku jadi ga tahan ingin menggodamu terus.”
            Kazuo memalingkan wajahnya, ia mempercepat langkahnya dan melambaikan tangannya tanpa menengok kearahku. “maaf Keiko, aku duluan ya.”
***
            Lagi-lagi Souta menghampiri ku. Tapi aku tidak menghiraukannya. Aku tidak menggubris setiap perkataan yang keluar dari bibirnya.
            “Keiko, aku ingin bicara denganmu sebentar. Aku mohon..” ucapnya dengan muka memelas. Baiklah, mungkin sekali ini aku akan mendengarkannya. Setelah itu aku tidak mau lagi berurusan dengannya.
           
Souta mengajakku ke sebuah taman. Taman yang indah dan sangat terkenal ketika musim semi menyambut. Taman Maruyama terletak di daerah Kyoto. Taman ini dipenuhi oleh bunga ceri yang bermekaran dan berwarna pink. Sungguh menyejukan mata dan hatiku. Baunya begitu harum, seperti menghipnotisku.
            Souta pun membuka pembicaraan. “Keiko, apa kau tau yang sedang ku pikirkan sekarang?” tanyanya dengan nada serius.
            Laki-laki aneh pikirku. Mana mungkin aku tau! “tidak. Kalau pun kau ingin mengatakannya aku tidak ingin tau.” Balasku cuek.
            Souta tertawa masam. “kau memang beda dari yang lain. Dirimu yang seperti ini lah yang membuatku tertarik.” Kini ia menatapku, ia memandangi bola mataku yang berwarna coklat.
            Aku segera memalingkan wajahku dari tatapan lembutnya yang membuatku luluh. “sudahlah, aku pulang dulu.” Aku beranjak dari tempat itu tapi Souta menghentikanku. Ia menarik tanganku dengan tegas sehingga aku kembali dalam posisi duduk. Pria itu mengunci tanganku. Ia menggenggamnya sangat erat dan membuatku tak dapat bergerak.
            “aku tidak berbohong! Aku menyukaimu Keiko...dan aku tau kau juga mempunyai perasaan yang sama denganku.” Souta mengatakannya dengan lancar. Apa selama ini dia tau kalau aku menyukainya? Aku tidak tau harus senang atau sedih. Mendengar pengakuan cintanya, tak bisa kupungkiri hatiku meloncat kegirangan. Aku hanya diam tak membalas ucapannya.
            “aku telah berubah sejak pertama kali mengenalmu Keiko. Kau tidak perlu takut aku akan memperlakukanmu seperti yang kulakukan kepada temanmu Miruka.” Hati yang penuh luapan kebahagiaan berubah menjadi kemarahan. Kata-katanya menyakiti hati sahabatku seolah Miruka tak ada artinya sama sekali bagi dia.
            “jangan sebut nama Miruka seakan-akan ia tak berarti apa-apa untuk dirimu. Biar bagaimanapun dia pernah menjadi bagian dalam hidupmu. Kenapa dulu kau menghianatinya?” amarahku terhadap Souta semakin memuncak sehingga aku tidak dapat berteriak dan melampiaskannya. Hanya suaraku yang terdengar rendah dan dingin.
            “semua aku lakukan hanya untukmu.” Katanya.
            Tubuhku gemetar. Aku sangat bingung. Apa aku berani menerimanya? “tolong tinggalkan aku sendiri Sou. Aku butuh waktu untuk berfikir.”
***

3 tahun kemudian....
            Setelah pengakuan Souta, aku merasa aku tidak akan sanggup hidup di Jepang jika selalu bertemu denganya. Akhirnya aku memutuskan untuk pindah ke Inggris dan tinggal disana bersama Bibiku, Rose. Tadinya kedua orangtuaku tidak mengizinkannya, tapi aku terus merengek dan terpaksa mereka pun mengizinkan aku untuk pergi. 3 tahun aku lalui tanpa hadirnya Souta. Aku cukup bahagia tinggal disini. Sekarang aku sudah menjadi seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran di sebuah universitas terkenal yaitu Oxford University.
            “Keiko, ada seseorang yang mencarimu.” Sahut Bibi Rose dari lantai bawah.
            “alright, wait a second.” Balasku dengan nyaring.
            Aku sungguh terkejut saat mendapati orang yang mencariku. Kazuo?! Bagaimana bisa ia tau tempat tinggal Bibi Rose? Dan untuk apa dia kesini? Banyak sekali pertanyaan yang muncul di otakku. Benar-benar sebuah surprise yang tak terduga.
            Aku memperhatikan Kazuo dari kepala hingga ujung kaki. Ia terlihat berbeda dengan ia yang dulu. Kazuo bertambah tampan! Namun, sorot matanya...seperti berbeda. Aku bergidik menatap sorot mata itu.
            “hai, Keiko. Lama sekali kita tidak berjumpa.” Nada suaranya kini terdengar riang dan tidak kaku seperti dulu. Kazuo benar-benar berubah semakin dewasa.
            Aku mempersilahkannya masuk dan kami duduk diruang tamu. “aku senang sekali bertemu denganmu. Apa yang membawamu kemari? Aku penasaran.” Ujarku yang diakhiri dengan seulas senyum manis.
            “apa kau tidak mengenalinya Keiko?” nada bicara Kazuo mendadak serius.
            Aku mengernyitkan dahi. “apa maksudmu? Mengenalinya?”
            “mata ini...apa kau sudah melupakannya?” katanya yg menyuruhku untuk menebak.
            Aku tidak mengerti dengan ucapan Kazuo. Apa yang terjadi? Ia tidak hanya berubah menjadi semakin tampan dan dewasa, tapi juga misterius.
            “katakan padaku yang sebenarnya Kazuo!” pintaku dengan sedikit memaksa. Aku sangat penasaran. Pasti sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang besar...ya sesuatu yang tidak ingin kudengar.
***
           
Aku tidak percaya dengan ceritanya! Tidak mungkin itu terjadi! Souta mendonorkan korneanya untuk Kazuo yang tertimpa kecelakaan dan kehilangan penglihatannya. Apa maksud Souta seperti itu? kenapa ia harus pergi dengan cara seperti ini? Kenapa ia tidak pernah mengatakan padaku bahwa ia juga memiliki penyakit kanker yang kronis?! Kau sungguh egois Sou! Kau ingin bertemu denganku dengan cara hidup pada mata Kazuo. Aku tidak bisa menahan tangisku. Saat aku berziarah ke pemakaman Souta, aku melihat seseorang ada disana lebih dahulu.
            “orang itu...” gumamku yang menahan isak tangis.
            “sudah lama sekali ya, Keiko...” sapanya lembut. Tampaknya ia juga sedang menangisi nisan Souta. Aku terkejut bisa bertemu lagi dengannya, terlebih ditempat seperti ini.
            “kita mencintai orang yang sama dan menangisinya juga bersama-sama. Ironis sekali bukan hidup ini?”
            “tidak. Dari awal Souta hanya menyukaiku, bukan dirimu Miruka. Dan kepergiannya tidak ada hubungannya dengan hidupku atau hidupmu. Kita menjalani hidup yang berbeda. Dari dulu aku ingin mengatakan ini padamu, tapi baru sekarang aku bisa mengucapkannya. Aku sangat lega karna aku tidak lagi menjadi pecundang.”
            “aku senang kau bertambah dewasa. Sudahlah, tak ada gunanya kita bertengkar. Lagipula, besok aku akan melangsungkan pertunanganku dengan pria yang kucintai. Aku harap kau dan Kazuo bisa menghadirinya.”
            “aku pasti datang.”
            Sekarang aku sadar bahwa sebenarnya yang ku inginkan adalah Kazuo. Cintaku memang untuk Souta, tapi sejak dulu yang ada untukku selalu adalah Kazuo. Dari awal, hanya Kazuo lah yang berada disisiku. Tapi aku tidak mungkin bisa melupakan orang yang ku cintai. Sebuah pelajaran yang sangat berarti bagiku. Lagipula, Souta...kau bisa selalu melihatku melalui Kazuo, bukan? Ucapku dalam hati. Aku tersenyum cerah menatap langit dan berharap kau mendengar yang kukatakan Sou.
***
            “Souta Hakazami!! Cepat habiskan makananmu! Atau ibu akan marah besar.”
            “iya, iya...Ibu cerewet sekali sih.”
            “Kazuo, sebaiknya kau ajarkan Souta untuk bersikap disiplin!”
            “jangan marah-marah terus nanti kau keriput Keiko. Bukankah Souta mengambil sifat seperti itu dari Ibunya? Hehe..”
            “Kazuo kau mati hah?!”
            Kehidupanku berubah drastis. Keluargaku dengan Kazuo adalah nafas kehidupan bagiku. Aku sangat bahagia menjalaninya. Kami memiliki seorang anak yang ku namai sama seperti dia, “Souta”, sebagai sebuah kenangan dan agar aku dapat selalu mengingatmu.... aku yakin kau pasti tertawa geli diatas sana melihat kelakuan Souta kecil-ku..
            Aku sangat bertrimakasih padamu Sou...
            Tanpa pengorbananmu, tidak mungkin aku bisa merasakan kebahagian yang luar biasa seperti ini...

Cerpen Cinta Romantis
The sweetest thought..
I had it all,
Cause I did let you go..
All our moments,
Keep me warm..
When you're gone....
(Within Temptation – Bittersweet)
END


Nama : Bella Danny Justice
Twitter : @bellajusticee
Fb : Bella Justice
 Cerpen Bella yang lainnya:  Kenangan yang Terlupakan dan Love That I Should Have.
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Cerpen Cinta / Cerpen Romantis dengan judul Cerpen Cinta: THERE’S SOMETHING IN YOUR EYES. Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://cerpen.gen22.net/2012/04/cerpen-cinta-theres-something-in-your.html. Terima kasih!
Ditulis oleh: Lukas Gentara - Thursday, April 26, 2012

4 komentar untuk "Cerpen Cinta: THERE’S SOMETHING IN YOUR EYES"

Raras Ay said...

Kalok mau ngirimin cerita bisa gak??? Dan gimana caranya?

Lukas Gentara said...

@Rara
bisa kok. tinggal kirim aja ceritamu ke email lukas_lagingapain@yahoo.com

Harga Printer said...

Demi cinta org bisa melakukan apa saja dan bisa mengorbankan apa saja .
Cerita yang sangat2 bagus :)

Yesi Ernida sari said...

4 JEMPOL DEH (y) :D BAGUS CERITANYA :)

My Blog List

My Blog List

My Blog List

My Blog List

  • Drama Korea Terbaru: Beloved - [image: Drama Korea Beloved] *Sinopsis Drama Korea Beloved:* Drama Korea yang satu ini diadaptasi dari novel Jepang karya penulis Hisashi Nozawa. Beloved me...
    5 years ago